Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sweet Love Novel Roy Passenger (Sampel)

 

Sweet Love Novel Roy Passenger (Sampel)



Bab 1 


Dua hari yang lalu, Kedua tangan Sherin melepuh karena ketumpahan air panas. Paman Kenzi Austin yang suka mandi air hangat harus membawanya ke puskesmas.

Paman Kenzi itu Bapak kosnya. Dia menyuruh Sherin memanggilnya ‘Paman’ meskipun usianya baru 35 tahun. Dia sudah menikah. Istri Paman Kenzi bernama Mila, dan dipanggil Tante Mila.

Sherin masih kelas dua SMA di Jakarta. Aslinya, orang Bandung.

“Aku hanya ingin sekolah di SMA SA Jakarta. Kalau tidak, lebih baik tidak sekolah,” ucap Sherin Suatu waktu, meyakinkan ibunya bahwa keputusannya untuk sekolah di Jakarta; yang ‘artinya’ harus kos sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Awalnya ibu Sherin menolak, “Sekolah di sini tidak kalah bagus dari Smart Asian.” Mata Ibu membesar seolah meminta dukungan Ayah. “Tapi hanya Smart Asian yang punya jurusan Web Developer. Aku ingin seperti Bang Darius. Lagi pula, kalian pilih kasih, jelas-jelas pilih kasih. Bang Darius dulu sekolah di sana, Ibu dan Ayah bolehkan.”

Ibu menatap ayah penuh harap, lalu mendengus kesal karena ayah tidak menunjukkan tanda-tanda mendukung dirinya. Pada akhirnya, dengan berat hati, Ibu harus merelakan Sherin berangkat ke Jakarta. “Tidak usah terlalu cemas. Dia akan tinggal di apartemen Darius. Tidak ada bedanya dengan tinggal bersama kita.” Ayah meyakinkan Ibu. Tapi, Ibu menunjukkan wajahnya yang kesal, “Aku tidak mengerti cara berpikirmu.” Bentak Ibu seperti mengancam ayah.

Teman-teman satu Apartemen Darius sangat jahil. Ada beberapa flat di apartemen itu yang ditempati oleh teman satu kantornya dan mereka semua masih bujangan. Darius itu pria yang sulit berkata tidak, sejak kecil ia sulit mengatakan ‘tidak’. Jadi tidak mengherankan bila ia punya banyak teman yang semuanya menganggap dirinya keluarga. Apartemennya lebih mirip cafe daripada rumah. Orang-orang masuk begitu saja, ada yang rebahan sambil merokok di sofa, ada yang masuk kamar mandi dan keluar belum memakai celana. Sherin pernah menjerit karena Bang Sobran, orang Papua berlari masuk ke rumah dan langsung ke kamar mandi, lalu ia keluar dari kamar mandi dengan penis sebesar belalai gajah menggantung di luar celananya. Anehnya, Bang Sobran juga berteriak kaget sambil buru-buru memasukkan penisnya. “Maaf, Sa pikir tidak ada wanita disini. Ko punya adek datang tak bilang-bilang.” Ucap Sobran, wajahnya pucat.

Bahkan, pernah kejadian teman Bang Darius masuk ke kamar Sherin. Orang itu juga belum tahu kalau Sherin sudah tinggal di sana. Dia melemparkan diri ke kasur dan menindih Sherin sambil bergoyang-goyang, “Hayo siapa ini? Siapa ini?” ucapnya. Mungkin dipikirnya Sherin itu teman satu kantornya yang sedang tidur kedinginan pakai selimut. Ia berguling ke lantai setelah Sherin berteriak, wajahnya merah dan memohon ampun. Akhirnya, Darius mengenalkan Sherin pada paman Kenzi, teman satu kantornya yang kebetulan sedang mencari orang untuk bantu-bantu di rumahnya.

“Kau lebih baik kos di rumah orang yang sudah berkeluarga.”

“Aku tidak mau. Demi apapun aku tidak mau kos di rumah orang. Sesekali, Abang harus bisa menolak orang masuk ke sini. Bahkan, mengusirnya. Sebenarnya, Abang juga tidak nyaman kan?”

“Jangan mengajari Abang bocah kecil!” Darius malah menggodanya. Tapi setelah bertemu dengan keluarga paman Kenzi, entah mengapa Sherin berubah pikiran. Mungkin,karena aura wajah pasangan itu tidak semenakutkan yang ia pikirkan sebelumnya.

Paman Kenzi adalah seorang programer sama seperti Bang Darius dan bekerja di perusahaan IT yang sama . Sedangkan Tante Mila adalah seorang dokter, lebih tepatnya dokter malaikat paru-paru. Kata Paman Kenzi harus ada kata ‘malaikat’ di tengah titelnya itu. Sherin baru mengerti kenapa harus ada kata ‘malaikat’ di sana setelah tinggal bersama beberapa bulan. Tante Mila adalah perempuan 30 tahun yang paling kuat. Ia adalah superhero di dunia nyata. Ia akan pergi ke daerah untuk mengobati pasien TBC tanpa tunjangan apapun. Bahkan, terkadang Ia menggunakan sebagian gajinya untuk membeli susu dan disumbangkan pada orang-orang kampung. Tante Mila itu tidak pelit dan tidak pedulian pada perkataan orang. Sherin pernah mendengar seorang pria memanggilnya lonte di pasar karena Tante memakai celana pendek yang terlalu ketat. Saat itu, Tante Mila bukannya marah, terkesan seperti menganggap orang itu tidak ada. Itu adalah keahlian yang bagus, menganggap orang judes tidak ada. Sherin ingin sekali memiliki keahlian seperti itu. Tapi, Sherin jauh berbeda dari Tante, Sherin adalah gadis yang sensitif, yang akan memikirkan ocehan orang sampai satu bulan ke depan. 


*** 

Sherin sedang merenung di dapur, tidak bisa masak karena kedua tangannya masih sakit dan belum bisa kena air.

“Kenapa Sherin?” Paman Kenzi tiba-tiba muncul, menenteng dua kantong plastik yang sepertinya berisi makanan.

“Aku mau masak, tapi...,”

“Tidak usah, Paman sudah beli sarapan. Ayo sarapan bareng!”

Paman mengambil piring. Ia menarik kursi untuk Sherin.

“Kamu libur juga?”

“Iya. Gegara Korona.”

“Sama dong. Paman juga akan WFH”

“Sampai kapan?”

“Belum tau. Kamu?”

“Aku juga belum tahu Paman. Tapi Tante kerja yah?”

“Iyalah .” jawab Paman sambil mengunyah, keningnya berkerut menatap wajah Sherin, mungkin bingung karena Sherin tidak menyentuh lontong itu sama sekali.

“Kenapa?”

“Paman maafkan aku kalau kurang sopan.”

“Kurang sopan?”

Sherin tidak bisa memegang sendok, mulutnya mendekat ke atas piring dan menjepit lontong itu, makan seperti kucing.

“Astaga Sherin!” Mata Paman langsung mengecil. “Tunggu-tunggu, biar Paman suapin. Paman lupa!” Paman seperti panik, bangkit berdiri dan duduk di sebelah Sherin. Ia mengambil sendok dan menyuapi Sherin sambil sesekali menyendok ke mulutnya juga.

Sherin tidak ingat kapan terakhir kali disuapi orang. Bahkan ia tidak pernah mengingat Ibu menyuapi dirinya. Sherin jarang sakit dan memang hanya anak remaja yang sakitlah yang masih disuapi ibunya. Ketika masih balita mungkin Ibu menyuapi Sherin, tapi ia tidak bisa mengingat itu.

Perasaan aneh muncul di kepala Sherin. Perasaan yang membuat dirinya bingung. Lebih bingung dari javascript yang selalu error saat ujian. Biasanya Ia tidak pernah sekaku itu di dekat paman. Dan bahkan sentuhan lutut Paman di pahanya terasa aneh, seolah mampu menghasilkan sensasi, seperti istilah ‘print out’ pada bahasa pemrograman, setiap sentuhan dan gesekan di paha menciptakan sesuatu yang baru.

“Aku benar-benar tidak tahu diri,” ucap Sherin sambil mengunyah.

“Jangan berkata seperti itu! Siapapun akan melakukan hal yang sama. Lagipula, kau sudah banyak membantu paman selama ini.” Paman merapikan rambut Sherin yang terjatuh di atas bibir, menariknya ke belakang telinga. “Sudah berapa hari kau tidak mandi?”

Itu pertanyaan yang sangat memalukan. Biasanya pertanyaan itu hanya ditujukan untuk orang yang tidak sadar diri. Meskipun intonasi suara paman tidak terdengar seperti ‘ngejudge’ tapi tetap saja membuat Sherin malu. “Hampir tiga hari.” Jawab Sherin kikuk. “Aku takut perih.”

“Ya udah, habis makan kamu mandi. Tiga hari tidak mandi pasti gerah kan?”

“Iya .”

“Kamu bisa buka baju sendiri?”

“Bisa kayaknya.”

“Ya udah, nanti Paman bantu untuk menghidupkan shower.”

Sehabis makan, paman Kenzi menemani Sherin ke kamar, masuk ke kamar mandi dan menghidupkan Shower. Setelah itu, ia keluar dan menutup pintu.

Sherin kesulitan melepaskan celana. Ia dorong dengan ujung jarinya. Meskipun sakit tetap dipaksakan hingga akhirnya lepas. Sherin menarik kaosnya ke atas, berusaha mengeluarkannya dari kepala—namun sangkut.

Sherin mulai panik. Ia tidak bisa melihat, leher kaos itu nyangkut di hidungnya. Ia coba menarik dengan ujung jari tetap tidak bisa. Ia paksa hingga tidak sengaja luka di pergelangan tangannya tergesek.

“Ouh,”

Suara pintu tiba-tiba terbuka. Suara langkah kaki mendekat. Buru-buru, Sherin membalikkan badan menyembunyikan ketelanjangannya.

“Sherin? Kau bisa? Sini biar Paman bantu!”

“Aduh Paman Aku malu!”

“Tidak apa-apa, namanya juga lagi sakit. Paman akan bantu dari belakang. Maaf yah!”

Tangan Paman menyentuh kaosnya, menyentuh telinganya dan menarik kaos itu hingga lepas. Lutut Sherin gemetar. Tangan Paman menyentuh pundaknya, lalu turun ke bawah, berusaha melepas pengait Bhnya.

“Sherin, kau percaya paman kan?”

Tentu saja Sherin percaya. Paman menjalankan ibadah tepat waktu, bekerja keras dan jarang mengeluh. Ia mencintai dan memanjakan Tante. Sherin mengetahui itu karena Tante Mila selalu mendapat hadiah, mulai dari tas branded, sepatu dan perhiasan. Paman mengutamakan Tante dalam segala hal. Saat paman main futsal bersama teman satu kantornya di hari minggu dan tante menelpon dan mengatakan perutnya sakit, maka paman akan segera pulang dan membawanya berobat. Jadi Sherin menganggukkan kepala untuk merespon pertanyaan paman itu.

“Kamu tidak perlu memutar badan. Berjalanlah ke kamar mandi. Biar paman bantu. Mustahil kamu bisa sabunan dengan kondisi seperti ini. Tidak usah takut, paman akan bantu dari belakang.” Suara paman gemetar. Seperti suara peserta cerdas cermat yang tidak yakin dengan jawabannya.

Sherin melakukan seperti yang paman minta, berjalan ke kamar mandi dan berdiri di bawah shower, menjauhkan kedua tangan supaya tidak terkikis air. “Ih, dingin sekali!” ia mengeluh saat air menyerbu tubuhnya. Ia langsung menggigil.

Langkah kaki mendekat dari belakang—Sherin tidak berani melihat. Ia tegang bukan karena takut diperkosa, tapi karena perasaan aneh. Perasaan seorang wanita yang harus telanjang di kamar mandi dan akan dimandikan oleh pria dewasa, dalam hal ini adalah bapak kosnya yang kebetulan baik.

Tangan Paman meraih sampo, menumpahkannya di atas rambut dan memijatnya. Kemudian, Ia mengambil sabun cair. Tangan Paman yang hangat meskipun basah, mengalir dari bahu ke punggungnya, muncul di depan untuk menggosok bagian atas payudaranya. “Tiga hari tidak mandi badanmu pasti kotor.” Paman berbicara, hembusan angin dari hidungnya menyentuh leher. Tangan paman turun ke pinggang, perut dan mengusap lembut pantatnya. Itu seperti gerakan jari yang sedang berjalan, terkadang menekan lebih kuat. Seperti gesekan jari di touchPad yang sedang error, digesek dan di gesek semakin kuat.

Lutut Sherin sedikit bergoyang seolah ada tulang yang terlepas. Ia paksa untuk tidak berpikir macam-macam. Paman Kenzi adalah pria baik. Paman menganggapnya seperti anaknya sendiri. Paman pasti tidak berpikir macam-macam. Kata-kata itu terucap berkali-kali di kepala Sherin.

Tangan Paman kembali muncul di depan. Kali ini tepat di atas pusarnya, lalu tiba-tiba turun mengusap bulu di atas vaginanya dan bergerak semakin ke bawah. Tangan Paman turun lebih ke bawah dan menggosok vaginanya. Mata Sherin terbuka lebar. Aduh, bagaimana ini? Aduh kok enak. Mati aku, mati aku. Aduh Paman! Ucap Sherin dalam hati. Tidak berani memutar badan untuk menghentikannya—takutnya Paman jadi berpikiran aneh-aneh, takutnya Paman sakit hati karena Sherin tidak menghargai kebaikannya. Lagi pula, terlalu enak untuk ditolak.

Tangan Paman semakin liar di vaginanya. Sherin tidak sengaja mendesah. Apakah Paman mendengarkan desahan itu? Wajah Sherin merah, tidak sanggup memikirkannya.

“Sakit?” Paman Kenzi tiba-tiba bertanya, tangannya masih mengusap-usap kemaluan Sherin dengan sabun cair.

“Nggak Paman.”

“Terus kenapa suaramu seperti itu. Seperti orang yang kesakitan?”

“Maaf Paman. Aku tidak sengaja.”

“Tidak sengaja?”

“Aku tidak tahu kenapa mulutku bersuara seperti itu. Aku tidak sengaja bersuara seperti itu. Aduh Paman...,” Sherin mulai ngelantur, tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak bisa konsentrasi selain pada sensasi enak yang muncul dari setiap sentuhan Paman.

“Maaf, Paman membuatmu tidak nyaman. Paman hanya ingin membantu!” Ucap Paman sambil terus mengusap-usap vaginanya.

“Tidak apa-apa Paman. Aku tahu itu.”

Sentuhan itu semakin enak. Seumur-umur Sherin belum pernah merasakan itu—bahkan saat ia masturbasi. Sherin berharap sentuhan itu tidak pindah. Tapi, harapkan itu tidak terkabul—tangan paman meluncur ke paha.

Paman mengusap kuat paha dan betisnya, seperti memijat. Lalu turun ke kaki, menarik telapak kaki itu ke atas dan mengusap jari-jarinya. Sherin tidak berani memandang ke bawah—takut paman melihat wajahnya yang aneh.

Sherin sempat kecewa, pikirnya paman akan segera selesai. Ternyata tidak. Tangan Paman kembali naik, mengusap betisnya, bergerak ke lutut dan ke pantatnya. Jari-jari Paman masuk ke belahan pantat. Lalu tangan itu muncul dari bawah, mengusap bagian bawah vagina Sherin.

Sekuat tenaga Sherin menutup mulut tapi tidak bisa. Desahan itu keluar juga. Dan kakinya semakin gemetaran.

“Kamu mengeluarkan suara itu lagi.”

“Maaf Paman.”

“Kakimu juga gemetaran!” Paman terus mengusap vaginanya dari belakang, seolah ada noda yang harus dibersihkan di sana. Seperti tangan gamer memegang mouse pada puncak permainan.

“Aku nggak tahu Paman.”

“Tapi, sakit atau gimana?”

“Tidak.”

“Terus?”

Tangan Paman semakin liar. Hembusan angin dari hidungnya menerpa pantat.

“Nggak tahu. Aaah.”

“Tapi nggak sakit kan?” Jari Paman menekan masuk.

Mata Sherin terbuka lebar. Kok Paman ngocokin? “Aaah, Nggak sakit Paman, nggak sakit sama sekali.”

“Tapi?”

“Enak.”

“Ya sudah. Paman cuci bagian yang ini lebih lama yah!” Dua jari Paman mengocok lebih cepat.

“Paman, mau pipis!” Sherin gemetaran, tulang lututnya seakan patah.

“Pipis saja, biar lebih bersih!” Paman mengocok semakin cepat. Hembusan udara dari hidungnya semakin kuat menyentuh pantat Sherin. Nafas paman tersengal-sengal, seperti pemburu yang mengejar rusa.

“ Paman, awas aku mau pipis!”

“Pipis saja!”

“Iiih,” Sherin menutup mata. Kencing menciprat tangan Paman. Sherin menjatuhkan kening ke dinding. Sensasi enak meledak di tubuhnya.

Paman berdiri di belakangnya, menonton tubuhnya yang bergelinjang. Paman menarik handuk, mengeringkan punggung dan payudara Sherin. Paman melilitkan handuk itu di tubuh Sherin dan memutar tubuh Sherin menghadap dirinya.

Kaos singlet yang paman pakai sudah basah, termasuk celana pendeknya. Air dari shower ternyata ikut memandikannya. Paman malah tersenyum. “Kau sudah bersih. Ayo pakai baju!”

Wajah Paman yang basah tampak lebih menggairahkan. Sesuatu di balik celana pendeknya menonjol-seperti tenda. Tapi, Sherin tidak mau memperhatikan atau memikirkan itu. Itu semua terlalu aneh dan terlalu mendadak.

Paman mengambil pakaian dari lemari, termasuk bra dan kaos. Sherin tidak percaya kalau Paman bisa dengan mudah menemukan baju-bajunya. Paman membuka laci dan mengambil celana dalam seolah sudah tahu dimana Sherin menyimpan celana dalamnya. Saat mencari celana pendek, paman langsung mendekati lemari paling kiri dan mengambil celana pendek.

“Ayo angkat kakimu!” Paman menengadah, menatap wajah Sherin. Sherin langsung grogi dan membuang muka. ia mengangkat kaki. Paman menuntun kakinya ke lobang celana dalam, menariknya ke atas dan merapikannya. Tangan Paman juga muncul di depan, menarik kain tepat di atas kemaluannya, seolah melonggarkannya.

“Sherin, Paman mandi di sini nggak apa-apa yah? Paman pinjam handukmu!”

Tentu saja Sherin tidak keberatan. Kalau Paman mandi di kamar depan, lantai pasti akan basah. Air dari celana dan kaos paman bahkan sudah membasahi lantai kamar Sherin.

Paman masuk ke kamar mandi. Sherin memikirkan banyak hal. Ada perasaan yang teramat besar muncul di dadanya. Perasaan yang tidak bisa diartikan. Sherin benar-benar pusing.

Saat Sherin memikirkan banyak hal, suara desahan terdengar dari kamar mandi. Seperti erangan, seperti nafas berat gajah, entahlah, itu terdengar seperti suara pria yang sedang bernafsu. Kaki dan tangan Sherin kembali gemetar.

Hampir setengah jam, Paman mandi dan suara desahan itu semakin intens. Ia keluar dan membuang pandang. Ada kekecewaan di wajahnya, atau mungkin rasa malu karena ia hanya melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya mulai dari pinggang. Paman berjalan cepat keluar dari kamar Sherin.



Bab 2 




Sehabis mandi, Sherin menonton tv. Paman bekerja di kantornya, di dalam rumah, di lantai dua. Virus Korona membuat mereka terkurung di rumah. Sementara, Tante Mila harus lembur dan terkadang tidak pulang. Seminggu terakhir, ia tidak tidur bersama Paman. Terkadang tidur di rumah sakit atau di hotel. Tante Mila pulang ke rumah hanya untuk mengambil baju, itu pun pakai masker dan melarang mereka untuk dekat-dekat.

Misalkan tiga hari yang lalu, saat Tante pulang ke rumah, ia tidak mau bersentuhan dengan Paman. Bahkan malamnya, sekitar pukul sepuluh malam, mereka berdebat dengan suara keras.

“Aku sudah nggak kuat Beb. Sudah satu bulan kau menghindar terus.” Suara Paman gelisah.

“Sini aku kocokin saja.”

“Kocokin? Kenapa nggak main saja?”

“Kau bandal bangat dibilangin yah Kenzi! Kalau kau ketularan gimana? Aku juga kan yang repot?”

“Ngga bakalan. Orang kamu juga tidur di sini.”

“Siapa bilang aku tidur di sini. Aku akan segera balik ke hotel.”

“kita kan bisa main pakai masker.”

“Nggak ada main pakai masker. Kita nggak usah dulu bercinta sampai korona ini selesai.”

Paman pasti kesepian, usia pernikahan mereka belum genap dua tahun. Mungkin lagi panas-panasnya tapi sudah harus pisah ranjang. Entah kenapa Sherin terlalu banyak memikirkan Paman. Padahal, biasanya tidak seperti itu.

“Sudah makan siang?”

“Belum Paman,” Jawab Sherin kikuk.

“Ya sudah paman beli makan dulu yah!”

Sering menganggukkan kepala. Tidak terlalu berani memandang wajah paman. Kejadian saat mandi itu masih menghantuinya.

Sebenarnya Sherin tidak enak berduaan di rumah dengan Paman saat tangannya sedang sakit. Paman terlalu banyak membantunya. Walaupun, Sherin berasal dari keluarga yang berkecukupan, tapi sejak kecil ia sudah terbiasa hidup mandiri. Harusnya Sherin lah yang pergi membeli makan, tapi dalam kondisi seperti ini, semua pekerjaan rumah diambil alih oleh Paman.

“Ayo makan! Paman beli nasi padang!”

Aduh nasi padang pula. Bagaimana cara makannya? Pikir Sherin sambil memandangi nasi bungkus yang ditenteng itu.

“Nggak usah dipikirin. Paman suapin. Ayo!” Ajak Paman seolah bisa membaca pikirannya.

Paman mengenakan celana training berwarna abu rokok dan kaos biru. Sherin juga pakai celana pendek sepaha berwarna biru muda dan kaos putih. Sherin berjalan mengikuti Paman ke meja makan. Pantat paman sangat seksi, pantas saja Tante Mila tergila-gila padanya, pikir Sherin.

Paman membuka bungkusan dan meletakkannya di atas piring. Setelah semua makanan terhidang Paman pergi ke kamarnya. Lalu muncul kembali, tiba-tiba menyentuh rambut Sherin dari belakang.

“Paman?” Sherin sedikit terkejut.

“Rambutmu sebaiknya diikat, supaya tidak berantakan saat makan.” Ucap Paman sambil mengikat rambutnya. Tarikannya sangat tegas, usapan di keningnya hangat. Sherin memejamkan mata.

Lalu, Paman menarik kursi di sebelah kanannya, “Menghadap ke sini, biar Paman lebih mudah menyuapi kamu.” Paman menarik dan memutar kursi Sherin, membuat lututnya berada di antara kedua paha Sherin. Awalnya, Sherin berpikir kalau Paman akan segera menyuapinya, ternyata Paman malah memajukan kursinya hingga lututnya menyentuh selangkangan Sherin. Jantung Sherin berdetak lebih cepat.

Paman mulai menggenggam nasi padang itu, mencubit ayam dan mengantarkannya ke mulut Sherin. “Ayo buka mulutmu!”

Paman mendorong nasi itu ke mulutnya dan Sherin langsung mengunyah. Saat Paman bergerak, lututnya juga bergerak, terdorong ke selangkangannya.

“Enak?” Paman bertanya sambil menatap wajah Sherin.

Sherin menganggukkan kepala.

“Semakin Enak?” Ia bertanya lagi.

Awalnya Sherin tidak mengerti. Kenapa Paman bertanya semakin enak? Mungkin Paman menanyakan rasa enak yang lain. Atau mungkin Sherin lah yang terlalu percaya diri. “Ia paman semakin enak.” Jawab Sherin malu. Wajahnya semakin hangat dan merah.

“Coba buka mulutmu, sudah habis belum nasinya?” Wajah paman mendekat, matanya menatap tegas.

Sherin membuka mulut. Kemudian, Paman menusuk satu jari tangannya ke dalam dan mengusap lidah Sherin. “Iya, kau sudah menelan semuanya. Paman masukin lagi?”

“Iya paman.”

Paman kembali menggenggam nasi dan mengantarkannya ke mulut Sherin sambil lututnya mulai bergoyang-goyang. Paman mengambil nasi dan menyuapi mulutnya sendiri. Sambil mengunyah ia bertanya, “Gimana Sherin, enak gak?” lututnya semakin terdorong menekan vagina Sherin.

“Enak Paman. Enak sekali!” Sherin mencuri pandang pada lutut Paman. Tiba-tiba Paman berhenti. Mata Sherin terbuka lebar, menyadari kalau celana training Paman terangkat ke atas seolah ada tongkat berdiri di sana.

Seperti orang yang panik, paman menarik lututnya. Ia bergeser menghadap meja. Sherin merasa bersalah karena mencuri pandang. Sherin tidak mau Paman menghentikan lutut itu.

“Paman sudah habis.” Ucap Sherin sambil membuka mulut, berharap Paman segera memutar badan dan kembali menggoyang lututnya.

Gerakan tangan Paman seperti orang malas, tidak seperti sebelumnya. Ia menggenggam nasi, memutar tangannya ke arah mulut Sherin tanpa memutar tubuh. Lalu, Paman juga mengunyah nasi-nya.

“Paman nggak enak.”

“Kok jadi nggak enak? Emang rasanya berubah?” tanya Paman tanpa menoleh, seolah sibuk memperhatikan piring sambil mengunyah.

“Iya paman, kayak ada yang hilang.”

Tiba-tiba, Paman berputar, duduk menghadap, lututnya kembali menekan. Wajahnya gemetar seperti orang yang sedang cemas.

“Sudah enak Sherin?” Ia bertanya

“Enak sekali paman.”

Lagi dan lagi, Paman menyuapi. Semakin lama dengkul kakinya menekan dan menggesek semakin kuat. Celana trainingnya semakin terangkat ke atas. Sesekali, ia meremasnya dan buru-buru melepasnya setelah Sherin menatap ke sana.

Nasi padang itu sudah habis, tinggal bumbu rendangnya. “Kita tidak boleh membuang makanan! Ayo buka mulutmu!” Paman mencolek bumbu rendang itu dengan jari telunjuknya. “Ayo habiskan!” Ia mendekatkan jari itu ke bibir Sherin.

Sherin membuka mulut dan menghisap jari Paman. Sherin menjepit jari itu dengan bibirnya. Paman menarik dan memasukkannya lagi, sambil lututnya menggesek lebih kuat.

“Aaah,” Sherin sudah tidak peduli. Ia mengeluarkan desahan yang sudah tertahan lama di tenggorokannya. Sherin benar-benar sudah dibatas kekuatan untuk menahan birahi. Ia ingin memeluk Paman, menciumi bibirnya. Setelah berpikir satu menit, Sherin akhirnya menyentuh halus paha Paman tidak peduli walaupun tangannya masih sakit.

Paman tiba-tiba berdiri seperti orang panik. Lalu, ia mengambil piring dan membawanya ke dapur. Paman kembali ke lantai dua untuk bekerja.

Sherin duduk sendiri di ruang depan, keringatan dan bernafsu. Tapi yang paling mengganggu adalah perasaannya. Sesuatu hinggap di hatinya, sesuatu yang membuat Sherin tidak nyaman, sesuatu yang merobek-robek jiwanya.

Harusnya, Sherin tidak perlu menyentuh paha Paman. Harusnya, Sherin biarkan saja Paman melakukan semuanya sesuka hati.

Jam enam sore, Bang Darius datang bertamu. Bukannya memberikan semangat, Abang memarahi Sherin di depan Paman Kenzi, “Kau itu memang teledor, sudah besar masih malu-maluin,” ucapnya sambil melotot marah. Sherin tidak bisa berkata-kata, ia menunduk malu.

Jam delapan malam, mereka memesan makanan online, Abang yang menyuapi Sherin. Ia baru pulang setelah jam sepuluh malam. Sementara, Tante Mila sudah menghubungi Paman Kenzi untuk memberitahu kalau ia akan tidur di hotel untuk dua minggu kedepan.

Setelah Bang Darius pulang, Sherin dan paman kenzi duduk berdua menonton tv. Kaku sekali. Sherin sama sekali tidak memperhatikan tv itu, pikirannya sepenuhnya ke Paman Kenzi. Apa yang Paman sedang pikirkan? Apakah ia merindukan tante Mila? Apakah ia merasakan getaran hebat seperti yang mengguncang dada Sherin? Hampir setengah jam mereka duduk diam. Lalu, paman Kenzi tiba-tiba bangkit. “Aku sudah ngantuk. Kamu kelihatan pucat sekali, kamu merasa gerah nggak? Kalau kamu mau mandi, bilang sama Paman, biar Paman bantu!” Ucap Paman dan langsung pergi ke kamar tanpa menunggu jawaban.

Mata Sherin berputar-putar. Apa maksud paman Kenzi? Apakah ia ingin melakukan seperti yang tadi pagi? Apa yang Paman Kenzi inginkan? Apakah sebaiknya Sherin pura-pura ingin mandi? Tapi malu sekali, paman Kenzi pasti sadar kalau misalkan Sherin meminta bantuan untuk dimandiin. Ia pasti tahu kalau sebenarnya Sherin hanya ingin disentuh seperti tadi pagi. Tapi, Paman sendiri yang telah menawarkan bantuan. Demi apapun, Sherin tidak sanggup menolak tawaran itu. Sherin coba menguatkan hati untuk berpikiran positif. Tetapi, tetap saja tubuh Sherin menginginkan untuk mandi.

Sherin melangkah ragu dan mengetuk dengan dengkul tangannya. “Dorong saja!” Suara Paman terdengar dari dalam.

Sherin mendorong pintu terbuka. Paman menatap aneh wajah Sherin. Paman sudah melepaskan kaosnya, tinggal memakai celana boxer ketat berwarna hitam, mungkin itu celana dalam yang menjepit atas pahanya yang berisi. Paman memiliki dada yang bidang dan perutnya sixpack. “Ada apa Sherin?” Paman malah bertanya.

Aduh, jangan-jangan ajakan untuk mandi tadi hanya basa-basi. Bagaimana ini? Apa yang harus Sherin katakan?

“Paman aku gerah sekali.” Sherin memberanikan diri.

“Kamu mau mandi?”

“Iya paman.”

“Kamu mau Paman bantuin mandi?”

“Iya.”

“Masuklah!”

Sherin masuk. Paman melangkah satu jengkal di depan. “Kamu mau paman mandiin seperti tadi pagi?”

“Iya paman. Seperti tadi pagi!”

“Jam sepuluh malam, kamu mau mandi?”

“Iya Paman.”

“Baiklah. Kamu sudah bisa buka baju sendiri?”

“Belum.”

“Kamu tidak keberatan kalau Paman bantu bukain?”

“Tidak.”

“Baiklah. Sini Paman bantu bukain bajumu!” Paman berlutut, melepaskan kancing celana Sherin. Ternyata Paman tidak membuka bajunya dari belakang seperti tadi pagi, tapi langsung dari depan.

“Kamu merasa gerah dan ingin dimandikan malam-malam yah?” Tanya Paman sambil menarik turun celana pendek Sherin.

Sweet Love Novel Roy Passenger (Sampel)


Berlangganan via Email