Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Baca Novel Erotis Roy Passenger - Kayla

 

Baca Novel Erotis Roy Passenger Kayla

Bab 1

 

Jam di desktop menunjukkan pukul delapan malam. Jari-jariku mengetik cepat. Ruangan editor ini lebih dingin di malam hari, dan lebih menakutkan. Ini adalah hari yang buruk. Bos Angga sengaja menyuruhku kerja lembur supaya dia punya kesempatan untuk mendekatiku. Padahal, selain aku, masih ada empat editor lain, bahkan tiga diantaranya adalah pria. Seharusnya, dia lebih memilih pria untuk lembur sampai malam. 

Langkah kaki seseorang terdengar mendekat ke ruangan. Siapa lagi kalau bukan bos Angga? semua orang sudah pulang, kecuali aku dan dia. 

Aku tidak mau menoleh ke arah suara itu, kupastikan dia sudah berdiri di belakangku. Lagipula, aku sudah hampir selesai. Aku ingin segera pergi dari kantor ini dan merebahkan diriku di kasur yang empuk.

“Gimana Kayla? sudah selesai belum?” Suara itu terdengar dari belakang. Membuat bulu di leherku berdiri, membayangkan matanya  memandangku dari belakang. 

“Sudah selesai. Aku pulang yah!” Secepatnya aku mendorong kursi dan mengambil tasku dari atas meja. Memutar badan dan menemukan Bos Angga duduk di atas meja dengan kaki yang bergantung ke bawah. Dia melirik wajahku sambil meniup-niup secangkir kopi.

“Tunggu dulu! Aku belum periksa kan?” Dia meloncat dari meja dengan senyuman aneh, meletakkan kopi di atas meja kerjaku dan memeriksa konten yang baru ku-edit. “Gambar setelah paragraf kedua mana?” Ia bertanya sambil  matanya memandangi layar komputer. 

“Gambar?” Aku mendekat dan berdiri di sebelahnya untuk memastikan. “Tadi sudah aku upload.” Ucapku sambil merebut mouse dari tangannya. Gambar itu sudah lenyap. Dia pasti sengaja menghapusnya untuk menahanku lebih lama di sini. 

“Tidak ada kan?” Bos Angga mengambil kopi, menyeruputnya sambil memandang wajahku yang terheran-heran. 

Aku menarik nafas yang panjang. Dia pikir, mengupload gambar adalah pekerjaan yang lama, aku akan menyelesaikan ini dalam hitungan detik. Aku kembali ke dashboard website, membuka konten itu untuk di edit kembali, memasukkan gambar yang baru. “Oke sudah selesai! Aku pulang yah?” Ucapku sambil melirik sepintas. 

“Baiklah. Eh, ini sudah malam. Aku antar kamu pulang yah?”  Ia berjalan mendekat. 

Aku mundur, sedikit panik. Kenapa juga dia harus mengantarku pulang? Dia tahu kalau aku selalu bawa mobil sendiri.

“Tidak usah. Aku bawa mobil,” Jawabku. Aku memutar badan, dan pergi meninggalkan ruangan itu. 

Bisa kurasakan tatapan kesal dari matanya melihat sikapku yang kurang sopan. Aku bukannya tidak sopan sama Bos Angga. Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Bos Angga adalah pria yang tampan, tapi dia bukan tipeku. Selain karena usianya yang jauh lebih muda dariku, aku tidak suka pria kantoran dengan kacamata dan wajah imutnya itu. Bos Angga itu masih muda, mungkin usianya baru 21 tahun, sementara aku sudah 27 tahun. Dia menjadi bos di perusahaan ini setelah ayahnya meninggal dunia dua tahun yang lalu. 

Awalnya aku cukup dekat dengan Bos Angga. Dulu, kami sering bercanda di kantor sambil bekerja. Tapi, pernah suatu malam dia mengatakan kalau dia mencintaiku dan menginginkanku menjadi istrinya. Tentu saja aku tolak dengan halus, menjelaskan padanya bahwa dia bukan tipe pria yang aku inginkan.Sejak kejadian itu, kami menjadi kaku dan tidak bisa sekompak dulu lagi. 

Setelah keluar dari kantor,  aku masuk ke mobil. Tapi, ada sesuatu yang tidak beres. Aku keluar lagi dan jongkok di sebelah ban belakang, ternyata ban sialan itu kempes total. 

“Kenapa?” Bos Angga yang baru keluar dari kantor, mendekat dan pura-pura heran melihat ban itu. Padahal, aku yakin seratus persen kalau itu adalah ulahnya. Dia bisa saja melakukannya sendiri atau menyuruh satpam untuk melakukannya. “Ya sudah. Kamu aku antar pulang yah?” 

“Tidak usah, Ga. Aku naik Grabcar saja!”

“Segitunya kau menjauhiku? Ya sudahlah…,” 

Ia bergerak ke arah mobilnya yang diparkir di sisi kanan gedung. Baru kali ini, aku melihat wajah itu begitu sedih. Rasa bersalah muncul di hatiku. 

Mungkin kah selama ini aku yang jahat, dan terlalu berpikiran negatif padanya?  Ia tidak pernah melukaiku, bahkah selalu bersikap sopan, walaupun terkadang tatapan matanya sangat aneh. Namun, ia hanya mencoba jujur dengan perasaannya kalau dia mencintaiku. Kenapa aku harus menjauhinya? 

“Ga!” Aku memanggil, suaraku seolah dipaksa keluar dari tenggorokan.

Bos Angga memutar badan, matanya sayu, memandang tanpa berkata apapun. 

“Aku masih bisa nebeng, gak?” Tanyaku grogi. 

Bos Angga melambaikan tangan, memanggilku sambil tersenyum. Ia masuk ke mobil. Ini adalah suasana yang paling aku benci. Mungkin inilah alasan kenapa aku menjauhinya. Setelah duduk berdua dengannya di dalam mobil, pikiranku tidak bisa berhenti membayangkan hal yang aneh-aneh. Aku tidak terlalu berani menatapnya dan memilih untuk pura-pura sibuk dengan ponselku. 

Mobil bergerak setelah hampir jam sembilan malam. 

“Mau makan malam dulu?” 

“Tidak usah Ga. Aku makan di rumah saja.” 

“Beli makan dulu berarti?” 

“Tidak usah. Aku masak saja di rumah.”

“Aku boleh ikut?”

Aku mengangkat wajah, memandangnya tanpa mempersiapkan jawaban apapun. Bagaimana ini? Bila aku mengiyakan, aku seolah memberikannya harapan. Tetapi, bila menolak, rasanya terlalu kejam setelah kejadian tadi. 

“Aku boleh ikut gak?” Ia bertanya kembali sambil menatap mataku.

Aku tidak menjawab dan memilih untuk menggelengkan kepala dan langsung pura-pura melihat-lihat homepage facebook di ponselku. 

“Pelit sekali!” Dia berbicara pelan dan kesal. “Padahal aku lapar sekali. Tadi siang lupa makan!” 

Aku kembali mengangkat wajah untuk memastikan ekspresinya, berharap itu hanya bercanda saja. Tapi, setelah melihat wajahnya yang imut dan seolah tidak ada dosa di sana, aku yakin bangat kalau dia tidak bercanda. 

“Aku tidak jago masak,” ucapku, berharap alasan itu cukup membuatnya mengerti.

“Yang penting kenyang. Berarti aku bisa ikut yah? Please! Makan doang!” Pintanya

Aku pusing. Siapa juga yang mau masak setelah kerja lembur? Aku mengatakan akan masak supaya dia tidak mengantarkanku ke warung atau kemana lah itu. Dan sekarang, aku malah terperangkap di jaringku sendiri. 

Mobil masuk ke halaman rumahku. Aku tinggal sendiri di rumah yang tidak terlalu besar. 

Bos Angga duduk di sofa, mengambil remote dan menghidupkan tv. Sementara aku masih sok sibuk melepaskan sepatu, masuk ke kamar dan berdiri mematung di sana. Aku Keluar lagi dan menatapnya dari samping, lalu mendadak membuang muka saat tiba-tiba Ia menoleh ke arahku. 

“Mau makan apa, Ga?” Tanyaku 

“Apa saja dah! Ada apa saja di kulkasmu?” 

“Lihat sendiri saja!”

Aku berdiri di depan kompor dengan wajah pusing. Apa yang harus dimasak untuk dia? Apakah dia pernah makan Indomie? Dari kecil, dia pasti sudah hidup mewah. Bagaimana kalau dia sakit perut setelah makan mie instan? Bisa-bisa, ibunya yang galak datang ke kantor dan marah-marah padaku. Astaga, aku benar-benar tidak tahu akan masak apa untuk dia. 

Aku kembali ke ruang tengah dan menghampiri kulkas, kulirik sebentar Bos Angga yang duduk di depan tv. Ia membalas tatapanku dan aku langsung membuka kulkas, mencari sesuatu di sana yang bisa dimasak. Tidak ada apapun selain lima bungkus indomie. 

Aku tidak punya pilihan lain. Kurebus dua bungkus Indomie. Setelah matang, aku membawanya ke sofa. Memberikan satu porsi kepadanya di dalam mangkuk besar. 

“Terima kasih,” ucapnya sambil tersenyum setelah melihat isi dari mangkuk itu. “Bagaimana cara makannya?” Tanya Bos Angga.

Awalnya kupikir kalau dia benar-benar tidak tahu cara makan mie instan. Tapi, setelah aku menatapnya terheran-heran, dia kembali bertanya, “Tidak ada sendoknya?” 

Aku bahkan sampai melupakan sendok. Kenapa aku segrogi ini? Padahal dia bukan tipeku. Harusnya, kalau aku tidak menaruh perasaan apapun padanya, aku bisa lebih santai. Bila aku tetap segrogi ini padanya, bisa-bisa dia malah berpikiran kalau aku juga menyukainya. 

Setelah mengambil sendok. Kami berdua makan di sofa, masih berpakaian kerja. 

“Aku belum pernah makan mie seenak ini.” Bos Angga sok memuji lagi. 

Aku berusaha tidak peduli. Walaupun, aku tahu kalau Ia mengharapkan tatapanku untuk pujiannya itu, wajahku kubuat biasa saja dan memilih untuk  melihat berita yang sedang disiarkan di tv. 

Bos Angga sudah selesai makan. Sedangkan mie instan di mangkukku baru berkurang sedikit. 

“Panas. Aku buka baju, nggak apa-apa ya?” Tanyanya. 

Bola mataku menjadi gatal. Walaupun aku tidak melihat ke arahnya, tapi masih bisa terlihat saat Bos Angga melepaskan kemeja kerjanya. Aku jadi penasaran setengah mati untuk melihat badannya. Akhirnya, aku melirik juga. 

Lengan tangannya berotot dan kulitnya putih. Otot itu sepertinya bukan otot karena kerja keras, tapi karena suka latihan di gym. Aku bahkan sempat melirik sedikit bulu ketek berwarna hitam yang menyembul dari ketiaknya. Dia masih mengenakan kaos singlet putih tanpa garis. Kaos itu menutup ketat dadanya yang berotot. Hanya itu saja yang bisa kulihat, selebihnya aku kembali fokus ke tv meskipun aku masih sedikit penasaran.

Sehabis makan, aku membereskan mangkok mie. Bos Angga mengambil sendiri gelas dari dapur dan mengambil minumnya dari dispenser. Kemudian, Ia duduk tenang, mengangkangkan kaki seolah berada di rumahnya sendiri. Sebaliknya, aku yang kaku. 

“Sudah punya pacar?” Dia tiba-tiba bertanya setelah aku kembali duduk di sofa. 

“Belum.” Aku menjawab, lalu tersenyum tipis. 

“Apakah kau kesulitan?” 

“Maksudmu?”

“Mencari pacar seperti tipe mu itu.”

“Aku tidak mencari pacar, tapi menunggunya!” 

“Boleh aku tahu, apa yang membuatku tidak masuk kategori tipe pria yang kau inginkan?” Dia menatapku semakin tegas, mengangkat punggunya dari sandaran sofa dan membungkuk mendekat ke arahku yang duduk di ujung, sebelah kiri. 

“Ah,” Aku mendesah dan melirik kesal karena dia sudah pernah berjanji untuk tidak mengungkit-ungkit masalah itu lagi. “Kau lebih muda. Aku menyukai pria yang lebih tua dariku. Itu saja!” 

“Kau mempermainkan cinta…,” Intonasi suaranya terdengar kecewa. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dan menoleh kesal ke arah tv. 

“Maksudmu?” tanyaku penasaran

“Jujur saja kenapa Kay! Kau juga menyukaiku kan? Tapi kau gengsi karena aku lebih muda. Kau mempermainkan perasaanmu sendiri.” 

“Kau ke-GR-an, Ga. Aku tidak mencintaimu seperti itu.” 

Tiba-tiba, dia menatapku kasar. Aku membuang muka ke tv karena sedikit takut. Jantungku berdetak lebih cepat. 

“Kau tidak mencintaiku?” Tanyanya emosi sambil berdiri. Ia melepaskan kaos singletnya dan  berlutut di lantai, di sebelahku. “Kalau kau tidak mencintaiku tatap aku. Lihat tubuhku! Kau mencuri padang berani. Apa yang salah denganku? Apa yang salah bila kau jujur pada perasaanmu kalau kau juga menginginkanku? Ayolah, Kayla! Kenapa kau grogi setiap kali  menatap tubuhku! Ayo tatap aku!” Ucapnya dengan suara memburu.

Aku tidak peduli dan berusaha mengontrol emosiku. Mulutku sudah ingin sekali berteriak, tapi aku memilih untuk menahan kemarahanku. 

Bos Angga semakin kesal. Ia mematikan tv supaya aku berhenti pura-pura menoleh ke sana. Dia berdiri tepat di depanku tanpa mengenakan baju. Aku tidak punya pilihan lain selain menatap ke arah celana-nya yang lurus di depan wajahku. 

“Tatap aku kalau kau benar-benar tidak mencintaiku. Aku bisa melihatnya, bila kamu tidak grogi saat menatapku, maka aku berjanji untuk tidak pernah lagi mengganggumu!” ucapnya. 

Aku marah sekali. Sesuatu seperti menjepit dadaku, rasanya tidak nyaman sampai tanganku gemetar. Aku melepaskan ikatan rambutku yang sebelumnya kuikat seperti ekor kuda. Mengangkat wajah dan menatap tegas wajahnya. Aku tidak  mau kalah dalam hal ini. Aku menatapnya, berusaha segarang mungkin. 

Wajahnya bergerak-gerak emosi. Kupikir, Ia akan segera memakai baju dan keluar dari rumah. Tapi ia malah membuat jantungku hampir meledak, menggerakkan bibirnya sambil tangannya mengelus-elus bagian depan resleting celananya. 

Aku hampir kalah, suhu di wajahku memanas. Ia pasti akan segera melihat warna merah di wajahku. Aku berusaha untuk tidak membuang pandang, menatapnya balik untuk mengalahkannya, berusaha menunjukkan kalau aku tidak grogi saat melihatnya. 

Bos Angga semakin menjadi-jadi, meskipun aku tidak secara langsung menatap tangannya yang mempermainkan penisnya dari balik celana. Namun, aku bisa melihat gerakan tangan itu semakin liar. Jantungku berdetak cepat saat, tiba-tiba, Ia menarik resleting celananya ke bawah dan menarik penisnya keluar, lalu mengarahkannya ke mulutku. 

“Bangsat! Keluaaar!” Aku berdiri dan berteriak marah.

Buru-buru, Bos Angga memasukan kembali penisnya. Dia mengambil baju kemejanya dan memakainya. 

“Aku tidak tahu tipe pria apa yang kau mau. Aku hanya ingin kau melihat ukuran penisku. Aku punya penis besar. Mungkin itu akan merubah penilaianmu padaku. Aku minta maaf bila tidak sopan.” Ucapnya sambil buru-buru mengancing kemejanya, lalu keluar. Ia melupakan kaos singlet putihnya yang masih tergeletak di lantai, di bawah sofa.

Setelah bos Angga meninggalkan rumah, aku duduk gemetaran di sofa. Gemetaran karena otakku tidak bisa membuang bentuk penisnya yang sekilas terlihat olehku. Darah dan tubuhku seketika terasa menegang, seolah mengemis tanganku untuk segera memainkan jari di selangkanganku. 

Aku menarik nafas yang panjang, berusaha mengalahkan keinginanku untuk masturbasi. Tapi, ketika kaos singlet yang tergeletak di lantai terlihat, nafsuku malah membesar. Aku tidak kuat menahan sensasi tegang di puting susuku. Kuambil kaos singlet Angga dan kubawa ke kamar. Aku melepaskan semua pakaianku, menjepit bantal guling dan menekan vaginaku kuat-kuat sambil mencium aroma keringat dan bau parfum Angga yang menempel di kaos singlet putihnya itu.


Jam sembilan pagi di hari Sabtu, aku libur kerja. Susan yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku masuk ke halaman ketika aku sedang menjemur baju. Susan itu teman dekatku mulai dari SMP, SMA hingga kuliah. Tetapi, setelah bekerja kami berpisah, untung saja rumah kami masih berada di satu komplek, jadi kami masih bisa ngobrol bareng. 

Susan sudah menikah lima tahun yang lalu, dua tahun setelah kami Wisuda. Sementara, aku masih menjomblo dan belum menemukan calon suami. Aku sering iri kepada Susan. Ia sudah PNS dan punya suami yang menurutku, tipeku bangat. 

“Kay…!” Panggil susan sambil berusaha membuka engsel pagar rumah.

Aku memutar badan. Wajah Susan seperti orang yang baru diperkosa. Matanya terlihat lebam seperti orang yang menangis semalaman. Buru-buru, aku menjatuhkan kembali baju yang hendak kujemur. 

“Susan kenapa?” 

“Nenekku meninggal….!” Jawabnya sambil menangis dan memelukku.

“Nenekmu yang hampir seratus tahun itu?”

“Iya, Kay…!” 

“Astaga, kirain ada apa?”

“Ih, walaupun sudah tua. Sedih aku tahu?”

“Terus kau tidak pulang?”

“Makanya aku datang ke sini. Aku mau nitip Gerry.” Gerry adalah kucing kesayangan Susan. “Gerry nya mana? Kau pulang kapan? Bang Andro ikut?”

“Gak dibawa. Kau ke rumahku tiap sore ya. Kasih makan doang. Gerry gak bakalan nyaman di rumahmu. Aku pulang sekarang juga. Bang Andro masih di laut. Aku sudah telpon tidak bisa masuk. Tapi, aku sudah sms. Setelah dia baca, palingan dia akan langsung menyusul.” Ucap Susan, sedikit kecemasan terlihat di wajahnya. 

“Aih, merepotkan saja!” ucapku sambil tersenyum.

“Ngasih makan doang loh.” 

“Iya, Aku akan memberikan anakmu itu makan setiap sore.” 

“Terimakasih yah!”

“Jangan lupa bawa oleh-oleh!”

“Astaga, kau pikir aku mau liburan. Aku mau mengubur nenekku yang meninggal.” 

“Hallah, nenekmu sudah seratus tahun juga.”

“Iya deh. Ntar, coba aku cariin oleh-oleh yah. Nih, Kunci rumah. Jangan pegang apapun di rumahku, tugasmu cuma ngasih makan kucing doang.”

“Iya bawel.”

Matahari hampir tenggelam, cahaya langit berubah menjadi kekuningan. Aku berjalan malas ke arah rumah Susan. Rumah itu ada di ujung komplek, sebelah kirinya langsung tembok yang membatasi perumahan dan sungai. Rumahku dan rumah Susan hanya berjarak sekitar  lima ratus meter dan dibatasi dua rumah lainnya. 

Setelah membuka gembok pagar, aku melangkah ke taman. Susan jauh lebih malas dariku untuk masalah bersih-bersih. Rumput di taman sudah panjang, pot bunga berserakan tidak diatur. Astaga,  Bahkan, dua buah plastik berisi sampah tergantung di pohon kecil, di dekat pintu rumah. Aku menarik nafas yang panjang, kesal karena dia belum berubah. Dulu aku pernah satu kos dengannya waktu masih kuliah. Jadi, aku sudah hafal bangat tabiat jorok Susan.

Kondisi di dalam rumah tidak jauh berbeda. Baju-baju kotor bergantungan dimana-mana. Bahkan aku bisa mencium aroma makanan busuk di rumah itu. “Dia kok bisa hidup di rumah sebusuk ini sih?” Ucapku sendiri sambil mengambill baju-baju yang tergeletak di sofa dan memasukkannya ke mesin cuci. 

Aku mengambil makanan kucing dan memasukkannya ke mangkuk yang diletakkan di sebelah kiri kulkas. Aku tidak peduli dengan kucing itu, bahkan saat Gerry melirik padaku, aku mengacuhkannya, aku yakin kucing itu bau karena tidak pernah dimandikan. 

Walaupun rumah kami tidak berjauhan. Tapi, setelah Susan menikah, aku tidak pernah bertamu ke rumahnya. Kalau mau ngobrol, kami lebih sering ngobrol di mall atau di taman komplek. 

Melihat rumah seberantakan itu, membuat tanganku gatal untuk segera merapikannya. Meskipun Susan sudah mengingatkanku untuk tidak menyentuh apapun. Tapi, aku tidak tega meninggalkan rumah itu dalam keadaan sakaratul maut sangking joroknya. Aku mencuci piring-piring berisi sisa makanan busuk. Bahkan, saat aku membuka magicom, aku kaget, di dalam magicom itu sampai tumbuh jamur berwarna-warni menyerupai kapas. 

Sudah jam tujuh malam, aku melemparkan tubuhku yang berkeringat ke sofa. Sambil menarik nafas, aku memandangi sekeliling ruang tamu itu. Di sana udara cukup pengap, pasti karena jendela rumah jarang dibuka. Susan kemungkinan menghabiskan lebih banyak waktu di luar. Ia malas sendirian di rumah. Apalagi, kalau Bang Andro sedang bertugas keluar kota. 

Aku mengambil remote dan menghidupkan tv, mengamati siaran yang tidak menarik. Tiba-tiba mataku melihat tumpukan kaset dvd di bawah lemari. Aku bangkit dan memeriksanya, siapa tahu ada film seru yang belum kutonton. 

Mataku terbelalak. Aku memegang kuat-kuat beberapa sampul DVD porno. Siapa yang menonton film bokep itu? Kupikir orang yang sudah menikah tidak menonton hal-hal seperti itu lagi. Atau jangan-jangan Susan sering masturbasi sambil menonton bokep kalau Bang Andro sedang tugas. 

Buru-buru, aku membuka laci lemari untuk memasukkan DVD itu itu ke sana. Tapi, mataku malah fokus pada flashdisk 32 GB, satu-satu barang yang mengisi laci meja itu. Aku mengambilnya, penasaran ingin melihat isinya. 

Sedikit Grogi, aku menghidupkan DVD player dan memasukkan Flashdisk ke port. Aku kembali ke sofa dan membuka file dvd itu dengan remote. Di sana ada beberapa folder. Aku membuka folder paling atas yang dinamai dengan, haha,’. Ada beberapa video tanpa thumbnail dan hanya diberi judul sesuai tanggal pengambilan video itu. Aku memutar salah satunya.

Jantungku berdetak cepat, video itu menunjukkan Susan sedang terbaring di kasur tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Sementara Bang Andro, meninggalkan kamera dan mendekati Susan.

Mataku fokus pada tubuh Bang Andro. Dia terlihat begitu macho, tingginya hampir 180 cm dan badanya berisi. Bang Andro itu Angkatan Laut, jadi tidak mengherankan, bila dia punya fisik se-macho itu. 

Jantungku semakin berdetak cepat, ketika Bang Andro melepaskan celana dalam putihnya. Penisnya yang panjang dan tebal langsung menyeruak dan sudah berdiri tegang. Ia menghampiri kepala Susan, menyodorkan penisnya ke mulut Susan. 

Vaginaku berdenyut. Aku tidak kuasa membiarkannya tanpa sentuhan. Tanganku mulai masuk ke dalam celana pendek yang kupai dan membelai vaginaku. Mataku menatap wajah Bang Andro yang mendesah-desah. Ia menikmati sepongan Susan. 

Aku sudah lama memperhatikan Bang Andro, berharap suatu saat bisa menemukan pria seperti dia. Aura jantan pada dirinya benar-benar menghanyutkanku. Ia jauh berbeda dari Bos Angga yang punya wajah imut. Bang Andro punya wajah yang tampan dan tatapan matanya selalu tegas, seperti jantan yang menjanjikan keperkasaan. 

Aku sudah melupakan waktu, bersemangat menonton video-video mereka. Ada ratusan rekaman video di sana. Aku mencoba mencari Video yang ada judulnya. Dan memilih sebuah file video yang dinamai, ‘Kangen kamu’.

Video itu direkam di sebuah kamar, sepertinya bukan kamar di rumah ini, mungkin di hotel atau di mess Bang Andro. Bang Andro duduk sendiri di pinggir kasur. Ia menatap kamera, mengenakan kaos ketat berwarna hijau dan celana loreng TNI. 

Aku menelan ludah. Bang Andro berdiri. Ia melepaskan kausnya, memamerkan dadanya yang bidang, kulitnya seperti terbakar matahari, begitu eksotis. Ia melepaskan celana TNI-nya, mengusap-usap benjolan panjang yang terbentuk di celana dalamnya.  Matanya tetap menatap garang ke kamera, sambil bibirnya bergerak-gerak seperti membisikkan sesuatu. 

Aku semakin liar mengusap-usap vaginaku yang sudah basah total. Bang Andro melepaskan celana dalamnya, penisnya sudah berdiri indah di antara kedua pahanya yang berbulu. 

Nafasku semakin kacau. Bang Andro mengambil kamera, menggoyang-goyangkan penisnya yang panjang ke kamera, memukul-mukulkan penisnya persis ke lensa Kamera. Kemudian, dia mengangkat kamera ke wajahnya, berbisik-bisik erotis dengan matanya yang liar. 

“Ahh,” Aku mendesah, sudah tidak kuat dengan sensasi nikmat yang menjalar di sekujur tubuhku. Kubayangkan bibirnya yang seksi itu bisa kugulum, kubayangkan penisnya yang perkasa itu bisa kujilat. Tangan kananku semakin liar mengobok-obok vaginaku, sementara tangan kiriku sibuk memelintir puting susuku. 

Bang Andro rebahan di kasur dengan kedua kaki mengangkang, memamerkan penisnya yang sudah berdiri tegang. Dia mengocok penis itu sambil terus menatap kamera dan mendesah-desah. 

“Ah,ah,” kucongkel liangku semakin liar. Tubuhku tegang, sesuatu  hendak meledak di dalam diriku. Aku menjepit vaginaku yang masih kucongkel dengan kedua pahaku, bergeliat sendiri di sofa. Aku belum pernah merasakan orgasm sehebat itu, nafasku sampai tersengal-sengal. 

Tok, tok,

Astaga, ada yang mengetuk pintu. Buru-buru, kutarik tanganku dari celana dan kulap ke bajuku karena sudah basah dengan cairanku sendiri. Aku berlari ke arah DVD, mencabut flashdisk dan memasukkannya ke laci, mematikan tv dan buru-buru membuka pintu. 

“Bang Andro?” 

Aku  malu sekali. 

Keringat masih mengalir di pipiku. Bang Andro berdiri , menggendong ransel dengan seragam TNI-nya di pintu. Ia menatap mataku begitu dalam, tatapan itu seperti tatapan yang dipenuhi nafsu, seolah ingin memakan seluruh tubuhku. 

Aku langsung membuang muka, “Aku di suruh Susan untuk memberikan makan kucing. Tadi, rumahnya sangat berantakan, jadi aku bersihkan dulu.” ucapku untuk membuang grogi.

Tanpa memperdulikanku yang menunduk di depan pintu. Bang Andro melangkah masuk ke dalam rumah. Ia  melemparkan ranselnya ke sofa, berjalan ke ruang tengah dan muncul dengan segelas air putih di ruang tamu. Aku sudah berdiri di sebelah Sofa. 

Bang Andro duduk di sofa, dia membelakangiku. Sesekali, aku melirik ke arah DVD yang lupa kumatikan, hanya tv saja yang kumatikan, sementara DVD masih hidup. Lututku sampai gemetar, tapi aku tidak munafik, postur tubuh pria yang tegap itu, membuat tubuhku tegang kembali. 

“Bang, aku permisi pulang yah!” ucapku dengan suara serak.

“Ngapain langsung pulang?” Bang Andro bangkit berdiri dan melepaskan baju loreng-lorengnya, Ia menatapku sekilas. “Duduk dulu sini! Ngobrol sebentar barang Abang!” ucapnya sambil duduk kembali. Kini, Ia hanya mengenakan kaos singlet hitam yang membungkus ketat dadanya yang bidang. 

Aku tidak mungkin bisa duduk tenang berduaan dengannya. “Aku pulang saja, Bang! Pamit yah!” ucapku. 

“Eh, tunggu dulu. Jangan asal pulang begitu!”

“Maksud Bang Andro?” Aku memutar badan dan memperhatikannya yang diam duduk di sofa.

“Siapa tahu kau mengambil sesuatu.”

“Ngambil sesuatu?” Tanyaku tidak mengerti. Apakah dia berpikir kalau aku ini adalah pencuri. Bangsat bangat. Aku sudah membersihkan rumahnya yang hancur berantakan dan dia menuduhku sebagai pencuri. Aku melangkah kedepannya supaya dia memperhatikanku, “Aku tidak mengambil apapun!” ucapku sambil mengeluarkan kantong celana pendekku. 

 

Dia tersenyum sinis, mengamati wajahku. Aku tidak kuat ditatapnya seperti itu. 

“Kau mau lihat yang asli gak?” Tanya Bang Andro tiba-tiba.

“Yang asli?” Aku tidak mengerti

“Aku sudah lama berdiri di belakang jendela. Melihatmu mendesah-desah menonton videoku. Kalau mau lihat yang asli. Ni buka sendiri!” Ucap Bang Andro, memandang celana-nya.

Wajahku seperti dicakar harimau, jantungku hampir meledak mendengarkan itu. Aku tidak tahu harus melakukan atau mengatakan apapun, selain melangkahkan kakiku buru-buru untuk keluar dari tempat itu. 

“Kau suka melihat videoku. Kau bisa melihatku secara langsung. Aku janji tidak akan memberitahu siapapun…,” ucapnya saat aku berjalan menghampiri pintu keluar. 

Aku tidak peduli, sudah sangat malu. Entah kemana wajahku ini harus kusembunyikan. 


Baca sampai tamat di google play book

 

baca online novel roy passenger

Berlangganan via Email