Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Baca Novel Romantis Roy Passenger - Main Hati (Preview Only)

Cover Novel Main Hati

Suara langkah kaki di gang remang menghasilkan dua bunyi yang berbeda. Suara sepatu boot Pak Tobias lebih nyaring. Pria itu berjalan di depan Milea, seolah tidak saling mengenal. Mereka berdua  bertetangga dan kerja di pabrik yang sama. Tapi, tidak pernah mengobrol. Di kota besar tetangga tidak saling mengenal adalah hal yang biasa.


Gang itu merupakan bagian belakang rumah-rumah yang saling membelakangi, panjangnya hampir tiga ratus meter. Sisi kanan dan kiri gang merupakan saluran pembuangan air. Tidak mengherankan, ada banyak tikus berlarian ke sana - ke mari, apalagi kalau sudah malam. 


Melewati gang itu adalah jalan alternatif, supaya lebih cepat menuju perumahan Lestari. 



Celana kargo Pak Tobias dilipat sampai lutut. Meskipun cahaya tidak begitu terang, tampak bulu-bulu hitam di betisnya yang kekar. Pantatnya berisi, seolah kenyal bila diremas.


Punggung Pak Tobias begitu kokoh. Dadanya pasti lebar dan berotot. Nyaman sekali bila wajah berlabuh di atas dada itu. Apalagi, memelintir puting susunya dengan lidah, atau mengusapnya lembut dengan telapak tangan. Milea akan hanyut lebih dalam, bila ia bisa membuat Tobias mendesah. Khayalan Milea semakin menjadi-jadi.


Gang hampir habis. Cahaya yang lebih terang muncul dari ujung gang. Milea ingin berlama-lama di dalam gang itu. Asalkan, dia bisa melihat Pak Tobias berjalan di depannya. Tapi, semuanya sudah selesai. Pria itu berhenti di depan rumah,  pertama setelah gang. 


Milea melewati Pak Tobias yang sedang membuka gembok pagar rumah. Sekali lagi, matanya mencuri pandang, belum puas dengan pesona pria itu. Milea kembali menelan ludah. 


Milea berhenti di depan pagar rumahnya. Rumah Pak Tobias dan Milea bersebelahan. Di depan rumah mereka adalah perumahan lain yang dibatasi dengan tembok setinggi dua meter, di sebelah kanan jalan.


 Mereka sudah bertetangga sejak dua tahun yang lalu. Setelah Tobias membeli rumah yang ada di sebelah Rumah Milea. 


Rumah Melia merupakan peninggalan orang tua Milea yang sudah meninggal. Sebagai anak paling bontot, Milea mewarisi rumah berlantai dua itu. 


Dulu, Suara Tobias dan Istrinya, Bu Sita, sering terdengar lagi berantem. Terkadang, suara piring yang dilemparkan dan pecah, membuat Milea terkejut. Teriakan dan tangisan juga sering terdengar dari rumah itu. 


Tobias tidak punya anak. Ketika mereka bercerai, Bu Sita pulang kampung. Sementara Pak Tobias hidup menduda, sudah hampir satu tahun lamanya.


Pada malam hari, Milea sering menghayalkan Tobias. Seakan-akan, pria itu akan membongkar rumahnya. Masuk ke dalam kamarnya. Tobias akan melepas semua pakaian dan berdiri telanjang di depan Milea.


Tapi, itu hanyalah khayalan dan Milea menyadari itu sepenuhnya. Pria 32 tahun itu selalu berwajah dingin. Mungkinkah dia sudah trauma bercinta dengan wanita? 


Bisa saja. Apalagi, setelah istrinya kedapatan menyeleweng bersama sahabatnya sendiri dua tahun yang lalu.


Setelah masuk ke dalam rumah, Milea mengunci pintu. Ia melepas sepatu, membuka seragam kerja dan melepaskan celana jeans birunya. Kemudian, Ia menghidupkan tv, duduk hanya dengan menggunakan BH dan celana dalam. 


Ruangan itu cukup luas. Ada beberapa foto tergantung pada dinding putih. Guci tua berdiri di beberapa tempat. Satu set sofa berwarna coklat melingkar di depan tv, di sebelah kanan tangga menuju lantai dua. Ada empat lemari hias besar di ruangan itu. Lemari-lemari itu diisi dengan piala-piala yang didapatkan Milea sewaktu masih sekolah dan kuliah. Sebagian diisi dengan perlengkapan makan antik dan dokumen-dokumen penting.


Gerimis di luar berubah menjadi hujan deras yang disertai gemuruh dan petir. Listrik tiba-tiba padam. Buru-buru, Milea bangkit dari sofa menuju meja. Ia mengambil lilin dan menyalakannya. 


Seseorang mengetuk pintu rumah. Kening Milea berkerut, jarang ada yang bertamu ke rumahnya, apalagi waktu malam. Dia tidak punya saudara di kota itu. Teman-temannya, kebanyakan, mengontrak rumah di dekat pabrik.


Milea merupakan manajer HRD dan sudah menjadi karyawan tetap. Sama seperti Tobias, tapi pada bagian yang berbeda. Tobias adalah kepala gudang. 


Walaupun begitu, mereka berdua pulang-pergi ke pabrik menggunakan angkot, karena lebih cepat, sekali jalan saja. Gang alternative yang langsung tembus ke jalan raya, membuat mereka tidak harus memutari perumahan yang cukup luas. 


Milea mendekat dan membuka pintu sambil memegang lilin yang sudah dinyalakannya. Bola matanya membesar, Pak Tobias berdiri di depan pintu rumah, tidak pakai baju. Orang itu hanya menggunakan celana kerja yang masih dilipat hingga lutut. Milea mencuri pandang beberapa detik, mendapati dada lebar itu dilukis tato.


Wajah Pak Tobias tidak begitu jelas. Tapi sepertinya, matanya malu, bergerak liar dan terkesan ingin membuang pandang. 


“Maaf  mengganggu. Ada lilin yang bisa saya pinjam, besok akan kuganti?” Tanya Tobias. Suara orang itu dalam, begitu maskulin.  Sekali lagi, bola mata Tobias bergerak liar, ingin membuang pandang. 


“Ada. saya ambilkan dulu yah, Mas.” Buru-buru, Milea berjalan ke arah TV, menarik laci dan mengeluarkan dua lilin. Dia memberikan lilin itu kepada Tobias. 


“Satu saja, Milea,” ucap Tobias.


“Saya masih punya banyak Mas Tobias. Ambil saja!” Milea sengaja menekankan nama Mas Tobias. 


“Baiklah, terimakasih. Besok pasti akan kuganti!” ucap Tobias. Kemudian, orang itu memanjat pagar dan meloncat ke halaman rumahnya. 


Wajah Milea pasti merah, seandainya lampu menyala. Untung saja lampu sedang mati, jadi Pak Tobias tidak bisa melihat kepanikan yang terlukis di wajahnya. Milea menarik nafas yang dalam. Menjatuhkan dirinya, telentang di sofa. Tak sengaja, Milea menyentuh susunya yang sedikit tegang dan ingin diremas. 


Mata Milea terbelalak, dadanya sesak. Milea terduduk dan melihat sekujur tubuhnya. Dia menyembunyikan wajah dengan kedua telapak tangan, baru sadar kalau dia hanya pakai BH dan celana dalam saja. Pantas Tobias terkesan ingin membuang pandang. Milea menyesali kebodohannya. 


Bodoh, bodoh sekali kau Milea, ucap Milea pada dirinya sendiri.




Bab 2

Main Hati


Keesokan harinya, setelah pulang kerja, Milea naik ke angkot. Ia langsung grogi. Pipi kanan Tobias terlihat. Orang itu duduk di depan, di sebelah supir angkot. 


Sebenarnya, ini bukan pengalaman pertama Milea satu angkot bersama Pak Tobi, mungkin setiap malam di hari kerja. 


Tapi, kejadian tadi malam, membuat Milea malu. Milea ingin sekali turun dan berganti angkot. Tapi, bukankah itu malah terlihat lebih mencurigakan? 


Lagipula, nyari angkot menuju perumahan sangat sulit. Biasanya, angkot itulah yang terakhir, sengaja menunggu penumpang tetapnya.


Milea tidak ingin ada orang yang tahu, kalau dia sering berkhayal tentang Tobias. Dia tidak mau dicap sebagai perempuan gatal.


Angkot berjalan hampir satu jam. Kemudian, berhenti di gang yang biasa Milea lewati menuju rumah. 


Milea menunggu Pak Tobias turun duluan. Setelah Pak Tobias berjalan. Tiba-tiba, angkot itu berjalan lagi. Supirnya tidak tahu, masih ada sewa yang mau turun karena Milea santai saja di belakang.


“Pak Minggir, minggir!” Milea terburu-buru. 


Angkot pun berhenti. Milea keluar, memberikan uang sambil pura-pura merepet, “Gimana sih Pak, sewa mau turun, malah  jalan!”. 


Milea berjalan cepat, ingin menikmati pengalaman itu lagi, berjalan di belakang Pak Tobias tidak pernah membosankan.


Milea memasuki gang. Matanya berkeliling, menatap jauh ke depan. Tapi, tidak ada siapapun yang bisa terlihat. Wajah Milea lesu, ia berjalan tanpa semangat.


Setelah sampai di depan rumah, Milea mencuri pandang ke jendela Tobias. Ia langsung membuang muka, ternyata Tobias berdiri di dalam rumah, melihat keluar dari jendela kaca.


Dada Milea berdetak lebih cepat, mereka sempat bertemu pandang. Tangan Milea sedikit gemetar membuka gembok pagar rumahnya. Ia gemetar karena sensasi birahi yang tiba-tiba muncul di sekujur tubuhnya. 


Setelah berada di dalam rumah. Tanpa melepaskan baju, Milea langsung merebahkan dirinya di atas sofa. Ia tidak menghidupkan tv seperti biasa, tapi memandang kosong ke langit-langit rumah, memikirkan arti tatapan Tobias yang baru saja dilihatnya. 


Milea semakin bergairah. Tapi apa yang harus dilakukannya untuk memuaskan nafsunya yang semakin mendesak. Menyentuh diri sendiri sudah cukup membosankan. Tapi sudah tidak pilihan lain, sekujur tubuhnya terasa enak bila disentuh.


Milea melepaskan baju dan celananya. Dia rebahan di atas sofa. Tangan mulai bergerak, menyapu dari atas dada hingga perut. Tangan kiri mencubit pelan puting susunya. Milea memejamkan mata. Sensasi enak muncul pada setiap sentuhan. Tangan turun ke bawah, mengusap bulu-bulu hitam yang tumbuh di atas vaginanya. 


Bibir Milea bergetar, jari-jari tangannya mengusap kulit luar vaginanya yang sudah basah. Imajinasi dipenuhi sorot mata Tobias. Milea tidak habis pikir, nafsunya bisa sebesar itu hanya karena bertatapan. Bagaimana lagi kalau Tobias menyodorkan penisnya ke mulut Milea? Milea tidak sanggup memikirkan itu.


Jari  Milea mengelus bagian dalam Vaginanya. Menyentuh sisi atas yang nikmat. Tapi, Milea langsung berhenti. Ia menarik nafas yang dalam. Seseorang mengetuk pintu. Milea buru-buru memakai kembali bajunya. 


Sambil berjalan ke pintu, Milea merapikan rambutnya yang kusut. Milea tertegun, Tobias, tetangganya yang berwajah dingin itu berdiri di depan pintu. 


Tobias memakai celana pendek kotak-kotak biru, setengah paha, seperti boxer ketat. Dan yang membuat Milea lebih tercengang, sesuatu tercetak di celana pendek itu. Seperti pisang yang yang memanjang ke arah paha sebelah kanan.


“Maaf mengganggu, Aku mau mengembalikan lilin yang tadi malam kupinjam!” Tobias menyerahkan satu pack lilin. Matanya sedikit liar, seolah hendak melirik sekujur tubuh Milea tetapi tidak terlalu berani. Terkesan sungkan. 


“Kan cuma pinjam dua?” 


“Biarlah. Anggap saja sebagai ucapan terimakasih.” 


“Baiklah, terimakasih yah, Mas,” ucap Milea, senyum manis mengembang di wajahnya. 


Sekali lagi, dengan sengaja, Milea mencuri pandang ke tubuh bagian bawah Tobias. Kemudian, pura-pura membuang pandangan saat Tobias mulai menatap wajahnya. 


Untuk sesaat, mereka berdua terdiam. Seolah keduanya ingin mengobrol lebih lama di depan pintu itu. Tetapi, suasana semakin kaku. Tobias menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “ka..ka..lau begitu, saya permisi, yah!” ucap Tobias tersenyum. 


Kaki Tobias berat saat diangkat untuk melangkah. Ia membuka pagar, memutar badan, menemui wanita itu masih berdiri di depan pintu dan menatap dirinya dengan pandangan yang sulit untuk diterjemahkan. 


Hal itu telah membakar jiwa Tobias. Kalau saja Milea menyentuh sedikit saja bagian tubuh Tobias, mungkin, dia akan sedikit lebih berani. Tapi, gadis itu hanya menatap bagian bawahnya saja. 


Tobias tidak bisa memastikan arti tatapan itu, bisa saja tatapan itu bukan tanda dari sebuah kekaguman tapi bisa kepanikan, jijik, ilfil dan lainnya. 





Temukan di Google Play