Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lanjutan 2 CERPEN MOBILE LEGENDS - KAGURA SI GADIS MISTERIUS BAB 1.2

Baca Part Sebelumnya di SINI


Kagura


Desa Bangbang dan hamparan semak belukar, sawah yang begitu luas dan pohon-pohon raksasa di pegunungan, semua menjadikan desa ini menjadi begitu hijau. kecuali semak belukar yang bergoyang-goyang dihempas angin di sekitaran jalan pulang menuju rumah. Dan empat orang anak kecil yang saling berkejaran, saling megejek, berlari-lari sambil terkadang membentangkan tangan, mereka menikmati masa kecilnya. 

Clint hampir masuk ke dalam rumah ketika Alucard tiba-tiba memanggilnya. "Clinttt!" 

Clint berhenti dan melihat kepada ketiga temannya itu, "Iya...iya saya ikut dah," katanya sambil tersenyum.
Wajah Rafaela langssung tersenyum, "Nah begitu dong, kan seru kalau bareng-bareng," Katanya.
"Yah udah, 2 Jam lagi kita ngumpul di sini," Kata Alucard sebelum mereka satu-persatu pergi ke rumah dan mengganti seragam sekolahnya.

Dua jam Kemudian, Rafaela, Alucard dan Clint sudah berkumpul di depan rumah Clint. Wajah Rafaela begitu kesal, karena sudah hampir jam stengah lima tapi Nana belum nongol-nongol juga.
"Gimana nih, atau mau dibatalkan saja jadi besok?" Tanya Alucard 
"Ya Sudah. Nga jadi juga lebih bagus," Tambah Clint
"Eh...Jangan, Tunggu sebentar lagi dia pasti datang."
Dan benar, dari kejauhan terlihat gadis kecil berpakaian merah sedang berlari terburu-buru menghampiri teman-temannya. 

Wajah imut itu berkeringat, dihiasi rasa bersalah karena telah membuat teman-temannya menunggu terlalu lama.
"Woi Nana kamu kebiasaan dah begini!" Kata Clint dengan kesal
"Aduh Maaf, saya harus cuci piring dulu." Jawab Nana sambil membersihkan keringatnya dan merapikan bajunya.
"Nyuci piring atau lihat-lihat piring," Ejek Rafaela
"Ih...Hobbi aneh," Tambah Clint
Alucard hanya senyum-senyum melihat cara teman-temannya memperlakukan Nana, "Okey...Okey," Katanya sambil mencoba meredakan suasana. "Berangkat nga nih?" Tambahnya

Mereka berempat berjalan hampir stengah jam, sebelum akhirnya mereka sampai di dekat sungai sebelum hutan.

Nana dari tadi sudah tidak bisa melepaskan tanganya dari rafaela, sementara Rafaela terus memegang belakang baju Clint yang terkadang dilepas paksa Clint karena kesal bajunya ditarik-tarik.

Wajah Clint sudah basah, Mata bulat besarnya bergerak lebih cepat, melirik sana-sini, sedangkan detak jantungnya sudah sedikit lebih cepat.

Alucard berjalan memimpin di depan. 

Jalannya sangat kecil dan menurun ke arah sunga. Sekitar 200 Meter di bawah sana, berdiri sebuah rumah berukuran sedang di dekat sungai. Tidak  ada seorang manusiapun melakukan aktifitas di sekitar rumah tersebut.

Alucard mencoba melongarkan kerah bajunya, Keringat membasahi lehernya, matanya mencoba melirik jauh ke bawah sana, mencoba menemukan sosok Grock yang sudah pernah ditemuinya. Tetapi, ke arah manapun matanya memandang sosok Grock tidak ada. Sedangkan, sekumpulan batu-batu yang biasanya dikerjakan oleh Grock terlihat bertumpuk di sebelah kanan rumah dekat sungai.

Setelah mereka hampir sampai di dekat rumah, wajah tegang mulai menghiasi wajah mereka. Bukan cuma karena rasa penasaran akan Kagura, tetapi matahari juga tidak terlihat, awan-awan dilangit berkerumum, sore itu menjadi sangat gelap dan petir yang sesekali mulai terlihat berkilat di ujung hutan sana.

Alucard melangkah di depan, disusul oleh clint dengan pandangan siaga. Sementara Rafaela dan Nana hanya diam mematung sambil berpegangan 2 meter di depan pintu rumah.

"Ayooo!" Ajak Alucard setelah menyadari teman-temannya masih mematung.

"Paman Grockkk!' Kata Alucard sambil mencoba mengetuk pintu
"Paman Grockkk...Saya Alucard keponakan Tigreal," Katanya lebih keras
"Hallooo! Apa di sini ada orangggg?" Teriak Clint
"Hallooo Ada Oranggg," Nana ikut mencoba berteriak. 

Petir semakin sering menghasilkan kilat. Hujanpun mulai turun, ke empat anak itu mulai kedinginan karena hembusan angin yang semakin keras, ditambah air hujan yang terkadang terbawa angin, terasa begitu dingin ketika mengenai kulit.

"Coba dorong!" Kata Clint
"Jangan nanti dimarahi Paman Grock!" Jawab Alucard
"Nga mungkin kita di sini terus sampai hujan reda. Gila dingin bangat ini!" Kata Clint
"Sini gw yang dorong!" Clint tiba-tiba maju dan mendorong pintu rumah itu dan langsung terbuka.

Aroma pengap langsung tercium, hawa hangat tidak terasa ada di dalam rumah, rasanya seperti tetap berada di luar rumah saja.

Mata  Clint melirik ke segala arah mencoba menemukan sosok manusia di dalam rumah tersebut, tetapi ia tidak menemukan siapapun.

"Hallo...Paman Grock!" Kata Alucard dengan keras
"Halllooooo" Rafaela mencoba berteriak
"Tidak ada orang di sini!" kata Nana mulai ketakutan

Alucard melangkah masuk lebih dulu. Ia berjalan dengan pelan, melihat dinding rumah dan beberapa lukisan tua yang menempel di sana. Matanya menangkap sebuah lukisan kecil tertermpel pada dinding papan rumah sebelah kanan. Ia mendekati lukisan itu, sementara teman-temannya mencoba mengikuti langkahnya dengan perasaan was-was.

Mata Alucard melotot, bola hitam matanya membesar, lukisan kecil pada dinding itu diambilnya dan dilihatnya lebih dekat. Matanya mulai berkaca-kaca, tanganya gemetaran sambil memegang gambar itu.

Ketiga temannya menyadari apa yang dilihat oleh Alucard. Clint tanpa permisi mencoba mengambil lukisan itu dan melihatnya dengan tatapan tidak percaya.

Pada Lukisan itu, berdiri lima orang anak muda. Tiga orang pria dengan badan yang gagah besar, salah satunya adalah Grock, sedangkan yang paling tinggi dengan pakaian berwarna maron itu adalah paman Alucard, Tigreal. Dan satu lagi, yang sudah tidak asing bagi Alucard dan Clint adalah Pemuda dengan pandangan mata yang begitu tajam, dan rantai besar seukuran tangan melilit di pinggangnya, mereka tahu itu adalah franco si manusia Rantai. 

Rafaela dan Nana tidak mengerti kenapa kedua bocah lelaki itu begitu terpesona dengan lukisan itu.

"Eh, Itu kan paman Tigreal yah?" Tanya Rafaela

Tidak ada yang menjawab karena kedua bocah itu masih begitu terpesona dengan apa yang baru saja mereka lihat pada lukisan itu.

"Kalian kenapa sih?" Tanya Rafaela, "Mereka ini siapa?" Tambahnya sambil mencoba menunjukkan lukisan tersebut kepada Alucard.
"i..i...tu teman-temannya Paman Tigreal," Jawabnya
"Darimana kamu Tahu?" Tanya Nana
"Paman Tigreal sering cerita mengenai mereka," Jawab Clint tiba-tiba sambil berjalan dan melihat-lihat lukisan lain yang berada di ruangan tersebut.

"Ini Paman Tigreal, Yang ini adalah Paman Grock, itu Franco, Hilda dan yang ini adalah Vexana," Kata Alucard sambil menunjuk satu-satu orang di lukisan itu.

Alucard melihat Clint yang sedang sibuk melihat beberapa lukisan yang diambilnya dari dalam laci sebuah meja. Alucard langsung mendekat dan diikuti kedua temannya.

Hujan semakin deras, suaga gemuruh semakin sering terdengar. Ke empat bocah itu mematung di dekat sebuah meja dengan puluhan lukisan jaman dulu.

Mata Alucard semakin berkaca-kaca, matanya menyisir satu demi satu lukisan-lukisan tersebut. Tidak semua orang yang ada dilukisan itu Ia kenal. Tetapi, ada satu lukisan yang membuat jantungnya seolah berhenti. Alucard mengambil lukisan tersebut, Ia kemudian duduk pada kursi kayu di dekat meja itu.

Ketiga temannya medekat dan mengelilingi Alucard yang masih belum berkedip mengamati lukisan tersebut.

"Ini apaan?" Tanya Nana
"I..itu tiang kematian yah?" Tanya Clint

Alucard tidak menjawab tetapi hanya menganggukkan kepala

"Tiang kematiaan?" Tanya Rafaela tidak mengerti
"Dan orang-orang itu siapa?" Tanya Nana
"Aku tidak mengenal mereka semua, ini adalah Bibi istrinya paman Tigreal, namanya Fasha, yang ini anaknya paman Grock yang meninggal di Hutan, namanya Balmond."
" Eh Tunggu!! Itu Kok seperti gambar nenek yang ada dirumah, Iya ini Nenek Eudora' Kata Nana tiba-tiba

"Aku juga melihat gambar kakek dan nenek-ku di sana, ini Kakekku Jhonson yang memakai pakaian Baja, sekarang pakaiannya masih ada di rumah. Ini adalah Nenek Aurora" Kata Rafaela tidak percaya.

"Aku tidak melihat keluargaku di sana," Kata Clint.

Mereka berempat semakin mematung, tidak percaya dengan lukisan yang baru mereka lihat. Gambar pada lukisan itu terlihat begitu tegang, beberapa luka bahkan terlihat menghiasi kulit mereka. Seperti memar besar yang terlihat di bibir Hilda.  

"Drekkk."
Lukisan itu tiba-tiba terjatuh ketika suara bunyi pintu terdengar. Sebuah sosok terlihat berdiri di pintu. Di luar ternyata sudah gelap, wajah sosok itu tidak terlihat begitu jelas. Tetapi ke empat anak itu langsung mengenali siapa dia.

Ketika Alucard berdiri, Sosok itu tiba-tiba mundur dan menghilang. Alucard langsung berlari mencoba mengejar sambil terus memanggil nama Kagura.

Alucard berusaha melihat ke segala arah, tetapi Ia sudah tidak melihat sosok itu lagi, Hujan masih sangat deras. Baju Alucard sudah basah. Sementara ketiga temannya yang lain hanya melihat dari pintu.

"Kagura, ini Kami mau minta maaf karena piring yang kemarin malam," Kata Rafaela
"Kagura...Kamu dimana? Kami mau mengajakmu main bersama," kata Nana
"Kagura...Kagura...Kamu dimana?" Kata Alucard

"Al...itu" Tiba-tiba Clint menunjuk pada sebuah gubuk kecil sekitar 100 Meter di sebelah kanan rumah persis di tepi sungai.
"Tunggu di sini!" Kata Alucard

Alucard berlari ke arah Gubuk itu. Ia sudah tidak peduli dengan hujan dan gelap. Sebuah pertanyaan besar tersimpan di dalam dirinya, dan Kagura sepertinya mengetahui sesuatu tentang lukisan-lukisan itu. 

Alucard berjalan lebih pelan ketika Ia hampir sampai di depan pintu gubuk itu.

Kumpulan batu-batu bertumpuk-tupuk di dekat sungai.

"Kagura..." Kata Alucard pelan
"Kagura kamu jangan takut, saya Alucard cucunya Tigreal, teman dekat kakekmu. Aku sudah pernah berbicara dengan Paman Grock"
"Kagura..." Kata Alucard tetapi tidak ada jawaban dari balik Gubuk.

Dengan sangat pelan Alucard mencoba membuka Pintu Gubuk tersebut. Ia berhenti layaknya patung ketika melihat sosok bocah kecil dengan wajah tertunduk di bawah payung. Terduduk di sudut gubuk tersebut.

"Kagura, Kamu baik-baik saja?" Tanya Alucard dengan sangat pelan

Kagura tidak menjawab. Ia diam tetapi tanganya sesekali mencoba menghapus air matanya dengan gerakan cepat.

"Kagura, kamu menangis? Kagura Kamu baik-baik Saja" Tanya Alucard kembali.

Kagura tetap diam dan mulai terdengar suara tangisan yang tertahan dari mulut kecilnya.

Alucard mendekat, membungkuk di depan Kagura. "Kagura, Kamu jangan takut, Aku temanya Paman Grock. Paman Grock dimana?" Tanya  Alucard. Tetapi, Ia tiba-tiba tidak bisa mendengar apapun, Udara tiba-tiba terasa begitu hangat. Jantungnya berdegup begitu kencang, Bola matanya membesar.

Alucard terdiam seribu bahasa. Belum pernah Ia merasakan sesuatu yang aneh seperti itu terjadi pada dirinya. Sesuatu yang begitu dasyat seperti menempel begitu saja diotaknya, di dadanya dan di semua bagian tubuhnya. Alucard tidak berkedip memandangi wajah Kagura yang baru saja mengangkat wajahnya itu.

Mata Kagura begitu sayu, air mata masih menghiasinya, menciptakan bola-bola kristal yang terpantul dari cahaya lampu di gubuk itu. Matanya menyisir tubuh Alucard. Menemukan sesosok bocah laki-laki dengan Gaya rambut terbelah dua, matanya polos tetapi melukiskan kedamaian. Sosok tangguh tetapi terlihat begitu lembut. Kagura merasakan sesuatu yang beda dari dirinya. Perasaan malu, mulai terlihat diantara kedipan matanya. Kagurapun menunduk lagi.

Kehilangan tatapan yang baru saja seolah menyentrum tubuh Alucard, Ia tersadar. Ia mendekat dan mencoba duduk tepat di depan Kagura, "Kagura kamu jangan takut, saya dan teman-teman bermaksud baik untuk mengajakmu  bermain. Di sana ada Rafaela, dia yang mengusulkan kami untuk datang ke sini karena Rafaela ingin sekali menjadi teman Kamu." 

Kagura kembali mengangkat wajahnya.

"Aku tidak berhasil menemukan Kakek Grock," Katanya tiba-tiba.

Sementara Alucard kembali hanya terdiam, padangan matanya kembali begitu syahdu terikat pada dua bola mata Kagura.

"Alucardd!" Kata Kagura sambil menyentuh bahu Alucard.

Alucard kaget, ia merasa seperti dialiri listrik yang membuat darahnya terjun bebas dari otak dan jatuh menimpa hatinya.

 "I...Ya...iya, Aa.a Apa tadi kamu bilang," Kata Alucard dengan gugup sambil sesekali membersihkan air yang menempel dibibirnya karena terjatuh dari rambutnya yang masih basah.

"Kakek Grock kemarin sore pergi ke Rumah pamah Tigreal, sampai sekarang belum kembali. Tadi aku sudah ke sana dan aku tidak melihat siapapun di sana," Kata Kagura

Alucard terkejut!