Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Mobile legends - Kagura si Gadis Misterius Bab 1





Alucard tidak berkedip dari tadi. Sejak Paman Tigreal memulai ceritanya tentang gelanggang maut itu, Alucard bagaikan terkena sihir. Umurnya yang masih sembilan tahun membuat Ia betah mendengar cerita pamanya tentang orang-orang hebat dijaman dulu. Orang-orang yang punya kekuatan sihir. Matanya sibuk melihat tangan Pamanya yang sesekali memperagakan gaya memukul. Sesekali Ia pun tidak lupa untuk membetulkan rambutnya yang tertiup angin.


Clint adalah sahabat Alucard di Desa Nusan. Temannya yang satu itu seolah tidak tertarik atau mungkin memang tidak tertarik dengan cerita pamannya. Ia sibuk memainkan pistol-pistolannya yang terbuat dari ranting kayu. Sambil sesekali, Ia seolah membidik sesuatu, sambil Ia melihat temannya ALucard dan Paman Tigreal.


"Terus..Sekarang dimana mereka Paman?" Tanya Alucard tiba-tiba ketika Pamanya sudah menyelesaikan cerita dan hendak pergi.

Tigreal berbalik, menatap ke wajah Alucard. Ia melihat wajah polos yang penuh dengan ketertarikan.

"Siapa?" Tanya-nya kembali kepada Alucard

"Y..a..ya...I..itu... Teman-teman Paman, Hilda, Franco dan yang lainnya?" Tanya Alucard agak ragu dengan nama-nama yang baru Ia sebutkan.

"Suatu saat kamu akan melihat mereka,"

"Benar Paman? Sumpah?"

"ssssttt Ayo ah...." Clint langsung mendekat dan menarik Alucard yang berusaha menunggu jawaban Tigreal.


Tigreal hanya tersenyum, Ia berbalik dan menjauh juga dari tempat itu.

"Kamu kenapa Sih, Main tarik tangan orang saja," kata Alucard dengan nada yang sangat kesal

"Halah...Kamu masih percaya saja dengan cerita begituan. Bohong tau. Bohong semua! Mana ada manusia yang melemparkan rantai untuk menangkap kodok," Jawab Clint tidak peduli sambil berjalan lebih cepat.

"Siapa yang menangkap Kodok? Maksud Kamu Franco?" Tanya Alucard sambil berusaha menyusul langkah temannya.


"Iya itu. Simanusia Rantai," Kata Clint

"Dia tidak menangkap Kodok, Bodoh! Itu jadi senjatanya menangkap musuh dan menariknya ke-tiang kematian. Makanya kalau Paman cerita kamu dengar dong!"

"Nah...Itu kalau kamu coba pikirkan dengan akal sehat, emangnya bisa musuh lengket diujung rantai, kan nga bisa?"


"Yah namanya juga sihir, Kamu ini gimana sih?"

"AKu tidak percaya sama sihir-sihiran." Jawab Clint dengan tegas

"Aku lebih tidak percaya sama pistol-pistolan kayu, nga ada guna," Jawab Alucard tidak mau kalah.


Mereka kemudian berlari menuju perkampungan karena hari sudah mulai gelap.

Sampai di perkampungan, mereka berhenti. Ide Nakal mulai muncul ketika mereka melihat Nana dan Rafaela sedang bermain di halaman rumah.


Clint tiba-tiba berlari dan di-ikuti oleh Alucard. Clint sambil membidik-bidikkan pistolnya langsung menyambar sesuatu dari tanah yang sebelumnya dimaikan oleh Rafaela.

Sementara Alucard yang kebetulan sedang memegang ranting pohon, mengerak-gerakkannya layakknya pedang sambil teriak-teriak, "ha..ha Ayo Clint lemparkan ke sini?"


"Eh Jangan dong, Kesinikan ramuan Rafa!"

"Ramuan...Ha..ha..Ramuan Apa ini, Bau Bangat lagi," Kata Clint tertawa sambil melemparkan tumpukan daun di plastik itu kepada Alucard.

Alucard meloncat dan dengan sigat menangkap kantong plastik itu, "ha..ha..Ini Ramuan? Apaan yang bisa disembukan daun singkong begini?" Ejek Alucard.

"hei...Kasih nga? Kasih Nga?" Teriak Rafaela sambil berusaha merebut Kantong plastik tersebut.

Nana yang umurnya tiga tahun dibawah kakak-kakak tetangganya itu awalnya diam. Namun, ketika Ia melihat Rafaela kesusahan menghadapi Clint dan Alucard, Ia akhirnya bangkit juga. Ia melirik piring bekas makan malamnya yang masih tergeletak di Tanah. Diambilnya piring itu dan berlari ke arah ketiga temannya itu.

"Hiah....h....Katanya sambil melemparkan piring yang dipegangnya Ke arah Alucard,"

Piring itu terbang ke arah alucard. Alucard dengan sigap menghindari lemparan Nana.

"Plak...."

Mereka berempat kaget setengah mati. Ketika piring itu ternyata malah mengenai seseorang yang berjalan dengan begitu cepat. Seorang gadis kecil seumuran mereka terus berjalan tanpa menghiraukan keempat anak yang sudah mulai ketakutan.

Untung saja piring itu hanya mengenai payungnya. Payung yang selalu dikenakannya kemanapun. Payung yang katanya adalah payung hadiah dari almarhum ayahnya, sebelum ayahnya meninggal karena tertimpa pohon di ladang.

"Siapa itu...Ha...n...tu....!" Teriak Clint sambil gemetaran dan berlari ke arah rumah


Rafaela dan Nana Langsung berlari mengikuti Clint. Sementara Alucard masih terdiam dengan pandangan yang terus mengikuti anak perempuan berpayung itu. Setelah anak itu menghilang dikejauhan, ia baru bergerak dan menyusul teman-temannya ke dalam rumah Clint.

"Alucard...!!!"

"Alucard!!!" teriak Nana dan Rafaela

"Ya ampun kami pikir kau sudah dimakan hidup-hidup sama setan kecil itu," Kata Clint. Sementara Nana dan Rafaela mencoba memeriksa kondisi fisik Alucard.

"Apasih, Dasar Penakut!, Itu bukan Hantu tapi Kagura!" Kata Alucard


"Kagura? Kagura Hantu?" Tanya Rafaela mencoba memperjelas

"Bukan Bodoh, dia itu cucunya kakek Grock yang rumahnya dekat sugai sana, di Ujung jalan sebelum Hutan,"


"Kakek Grock, situkang Batu, Kok saya tidak tahu dia punya cucu," Kata Clint


"Ya ampun, Woi bodoh, Kakek Grockkan nga menikah dan nga punya anak, mana mungkin ia bisa punya cucu?" Kata Clint dengan wajah mengejek.


"Dia itu punya anak, Tapi anak dan menantunya ikut jadi korban pohon tumbang di Hutan."


"Masa? ya ampun sedih bangat," Kata Rafaela sambil mengambil posisi duduk di Kursi kayu di Rumah Clint.



"Iya...Sedih Bangat" Tambah Nana.

"Makanya jangan teriakin hantu dong, kasihan Tahu? dia itu nga mau bergaul karena selalu digituin sama anak-anak kampung,"

"Lagian ngapain juga gelap-gelap gini Ia lewat dari sini, udah gitu pakai payung lagi. Gila kan itu namanya, Halo, Nga hujan, nga terik matahari tapi pakai payung! Aneh" Kata Clint sambil ikut duduk juga.

"Ceritanya panjang, Pokoknya payung itu adalah hadiah yang diberikan Ayahnya satu hari sebelum ayahnya meninggal, Katanya ayahnya berpesan supaya Kagura tidak pernah meninggalkan dan menutup payung itu. Bahkan Kata Kakek Grock, Kagura juga memakainnya saat tidur."

"Ih...Kok seram?" Kata Nana

"Emangnya kamu pernah ngobrol sama kakek Grock, Kapan?" Tanya Rafaela memperjelas

"Hem...Kayak Kamu nga tahu saja, pastilah, semua kakek-kakekan dekat sama dia, Biar bisa dengar dongeng gratis." Kata Clint sambil bangun dan menuangkan air putih ke gelas.

"Enak saja, Aku itu ketemu sama dia waktu aku ke rumah Paman Tigreal, Kebetulan dia di sana. Yah gitu dah, jadinya ia cerita kalau ia punya cucu perempuan seumuran saya. Bagi dong!" Kata Alucard sambil merebut gelas air putih dari Clint. Sementara Nana dan Rafaela terus mendengar pembicaraan kedua anak itu.

"Hem..Bagaimana kalau kita ajak saja Dia main di sini besok?" Kata Rafaela

"siappaaa?" Tanya clint Kaget

"Yah...itu siapa...si Gura"

"Kagura Rafa, bukan Gura!" Kata Clint

"Iya itu si Kagura!" Jawab Rafaela

"iya aku setuju, kasihan Ia nga Punya teman," Tambah Nana.

"Eh...Bodoh! Ngapain, Aku mah nga, Terserah kalau kalian mau pergi," Kata Clint

"Terserah, kalau kau mau besok sore kita ke sana, Clint nga usah ikut berarti, " Kata Alucard.

"Okey...Besok kita ke sana," Jawab Rafaela "Dasar penakut!" Tambahnya lagi sambil melotot tajam ke arah Clint, Kemudian bangkit dan menarik tangan Nana ke luar dari rumah Clint. Alucard juga pergi dan Clint terduduk sendiri masih ragu apakah besok ia akan ikut atau tidak?

Baca Part 2 Di SINI
Bersambung....


Berlangganan via Email